Banner 468 x 60px


 

Jumat, 17 November 2017

PENYAKIT KAUSAL DAN SIMPTOMATIS

0 komentar
Penyakit kausal adalah penyakit yang disebabkan oleh suatu faktor tertentu, misalnya disebabkan oleh bakteri atau virus sedangkan penyakit simptomatis adalah kondisi yang menunjukkan gejala-gejala terganggunya kesehatan seseorang. Penyakit kausal dapat ditangani dengan pemberian antibiotik (antimikroba) sedangkan obat AINS dapat digunakan untuk mengatasi penyakit simptomatis.

ANTIMIKROBA
Antimikroba (AM) adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia, yang dimaksud dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit. Antibiotik adalah zat yangdihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotic dewasa ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam praktek sehari-hari Antimikroba (AM) sintetik tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya sulfonamide dan kuinolon) juga sering digolongkan sebagai antibiotic.

Aktivitas Dan Spektrum Antimikroba
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik ;dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar minimal yang diperlukan untuk menghabat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya masing-masing dikenal sebagai kadar hambat minima (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).
Mekanisme Kerja Antimikroba. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima kelompok :
(1) Yang mengganggu metabolism sel mikroba. ; 
(2) Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba ;
(3) Yang mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba;
(4) yang menghambat sintesis protein sel mikroba; dan
(5) Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.
Resistensi
Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan mikroba oleh antimikroba sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Faktor yang menetukan sifat resistensi atau sensitivitas mikroba terhadap AM terdapat pada elemen yang bersofat genetic.

Efek Samping
Efeksamping penggunaan antimikroba dapat dikelompokkan menurut reaksi alergi, reaksi idiosinktasi, reaksi toksik, serta perubahan biologik dam metabolik pada hospes.

Reaksi alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotic dengan metabolic system imun hospes , terjadinya tidak tergantung pada besar dosis obat. Manifestasi gejala dan derajat beratnya reaksi dapat bervariasi.

Reaksi idiosinkrasi
Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetic terhadap pemberian antimikroba tertentu.

Reaksi toksik
Antimikroba pada umumnya bersifat toksik-selektif, tetapi sifat ini relatif. Efek toksik pada hospes dapat ditimbulkan oleh semua jenis Antimikroba
Perubahan biologik dan metabolik. Pada tubuh hospes baik yang sehat maupun yang menderita infeksi terdapat populasi mikroflora normal superinfeksi yaitu suatu infeksi baru yang terjadi akibat terapi infeksi primer dengan suatu Antimikroba

Faktor yang memudahkan timbulnya superinfeksi ialah : (1) adanya factor atau penyakit yang dapat daya tahan pasien; (2) penggunaan antimikroba terlalu lama; (3) luasnya spectrum aktivitas antimikroba obat, baik baik tunggal ataupun kombinasi
Jika terjadi superinfeksi, tundakan yang perlu diambil untuk mengatasi ialah: (1) menghentikan terapi dengan antimikroba yang sedang digunakan; (2) melakukan biakan mikroba penyebab superinfeksi; dan (3) memberikan suatu antimikroba yang efektif terhadap mikroba tersebut

Penggunaan Antimikroba Di Klinik
Penggunaan antimikroba didasarkan pada indikasi dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut : (1) gambaran klinik penyakit infeksi, yakni efek yang ditimbulkan oleh adanya mikroba dalam tubuh hospes,dan bukan berdasarkan atas kehadiran mikroba tersebut; (2) efek terapi antimikroba pada penyakit infeksi diperoleh hanya sebagai akibat kerja antimikroba terhadap biomekanisme mikroba, dan tidak terhadap biomekanisme tubuh hospes; (3) antimikroba dapat dikatakan bukan merupakan “obat penyembuh” penyakit infeksi dalam arti sebenarnya.




ANTI INFLAMASI NON STEROID
AINS berkhasiat analgetis, antipiretis serta antiradang (antiflogistis) dan banyak digunakan untuk menghilangkan gejala penyakit rema
Obat ini juga efektif terhadap peradangan lain akibat trauma (pukulan, benturan, kecelakaan), juga misalnya setelah pembedahan, atau pada memar akibat olahraga . juga digunakan untuk mencegah pembengkakan bila diminum sedini mungkin dalam dosis yang cukup tinggi.
Secara kimiawi, obat-obat ini biasanya dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
a.    Salisilat: asetosal, benorilat dan diflunisal
b.    Asetat: diklofenac, indometasin dan sulindac (Clinoril).
c.    Propionat: ibuprofen, ketoprofen, flurbiprofen, naproksen dan tiaprofenat
d.    Oxicam: piroxicam, tenoxicam dan meloxicam
e.    Pirazolon: (oksi) fenilbutazon dan azapropazon (proxilan)
f.    Lainnya: mefenaminat, nabumeton, benzidamin dan bufexemac (parfenac).

PENANGANAN RASA NYERI
Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yakni dengan:
a.    Analgetika perifer, yang merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer.
b.    Anestetika lokal, yang merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf sensoris.
c.    Analgetika sentral (narkotika), yang memblokir pusat nyeri di SSP dengan anestesi umum.
d.    Antidepresiva trisiklis, yang digunakan pada nyeri kanker dan saraf, mekanisme kerjanya belum diketahui, mis amitriptilin.
e.    Antiepileptika, yang meningkatkan jumlah neurotransmitter di ruang sinaps pada nyeri, mis. Pergabalin. Juga karbamazepin, okskarbazepin, fenitoin, valporoat, dll.

Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer, seperti parasetamol, asetosal, mefenaminat, propifenazon atau aminofenazon, begitu pula rasa nyeri dengan demam

*Diambil dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Sarwan © 2017