Banner 468 x 60px


 

Jumat, 17 November 2017

FARMAKOLOGI BERBAGAI KELOMPOK OBAT

0 komentar
Obat-obat Penyakit Saluran Pencernaan
Penyakit saluran cerna yang paling sering terjadi adalah radang kerongkongan (reflux oesophagitis), radang mukosa lambung (gastritis), tukak lambung – usus (uclus pepticum) dan kanker lambung – usus

Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat tukak lambung-usus dapat digolongkan sebagai berikut :
Antasida (senyawa magnesium, aluminiumdan bismut, hidrotalsit, kalsium karbonat, Na-bikarbornat). Zat pengikat asam atau antasida (anti=lawan, acidus=asam) adalah basa-basa lemah yang digunakan untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan asam lambung.

Senyawa magnesium dan aluminium dengan sifat netralisasi baik tanpa diserap usus merupakan pilihan pertama. Karena garam magnesium bersifat pencahar, maka biasanya dikombinasi dengan senyawa aluminium (atau kalsiumkarbonat) yang justru bersifat obstipasi (dalam perbandingan 1:5). Persenyewaan molekular dari Mg dan Al adalah hidrotalsit yang juga sangat efektif.

Natrium bikarbonat dan kalsium karbonat bekerja kuat dan pesat tetapi dapatdiserap usus dengan menimbulkan alkalosis. Ada-nya alkali berlebihan di dalam darah daringan menimbulkan mual, muntah, anoreksia, nyeri kepala dan gangguan perilaku.
Bismutsubsitrat dapat membentuk lapisan pelindung yang menutupi tukak, lagi pula berkhasiat bakteriostatis terhadap H. Pylori. Kini banyak digunakan pada terapi eradikasi tukak, selalu bersama dua atau tiga obat lain.

Waktu minum obat.
Sudah diketahui umum bahwa keasaman di lambung menurun segera setelah makan dan naik kembali satu jam kemudian hingga mencapai dataran tinggi tiga jam sesudah makan. Berhubung dengan data ini maka antasida harus digunakan lebih kurang 1 jam setelah makan dan sebaiknya dalam bentuk suspensi. Telah dibuktikan bahwa tablet bekerja kurang efektif dan lebih lambat, mungkin karena proses pengeringan selama pembuatan mengurangi daya netralisasinya.
Dosis.
Pada oesophagitis dan tukak lambung 1 jam sesudah makan dan sebelum tidur. Pada tukak usus 1 dan 3 jam sesudah makan dan sebelum tidur. Antasida yang mengandung alginat merupakan obat yang paling sering digunakan pada nyeri yang menyertai gangguan refluks/heartburn.

Antibiotika yang umum digunakan untuk penyakit ini antara lain adalah amoksilin, tetrasiklin, klarotromisin, metronidazol dan tinidazol. Obat-obat ini digunakan dalam kombinasi sebagai triple therapy untuk membasmi H. pylori dan untuk mencapai penyembuhan penyakit tukak lambung/usus dengan tuntas.

Obat penguat motilitas : metoklopramida, cisaprida dan domperidon. Obat-obat ini juga dinamakan prokinetika atau propulsiva dan merupakan antagonis dopamin. Berdaya antiemetik, memperkuat peristaltik dan mempercepat pengosongan lambung yang dihambat oleh nuerotransmitter dopamin

Penghambat sekresi asam
a.    H2-blockers (antagonis H2-reseptor): simetidin, ranitidin, famotidin, roksatidin dan nizatidin. Obat-obat yang menempati reseptor histamin-H2 secara selektif di permukaan sel-sel parietal sehingga sekresi asam lambung dan pepsin sangat dikurangi.
b.    Penghambat pompa-proton (ppp): omeprazol, lansoprazol, pantoprazol dan esomeprazol
c.    Lainnya

Sedativa            : meprobamat, diazepam dll
Analogen prostaglandin-E1     : misoprostol(Cytotec)
Zat-zat pembantu        : asam alginat, succus dan dimethicon

Obat Pencernaan.
Obat-obat pencernaan atau digestiva digunakan untuk membantu proses pencernaan diseluruh lambung-usus. Obat yang sering kali digunakan adalah asam hidroklorida, Enzim lambung pepsin dan enzim pankreas penkreatin, temu lawak serta garam empedu (kolat). Zat-zat ini terutama digunakan pada keadaan defisiensi dari zat pembantu pencernaan bersangkutan
Pepsin : enzynorm
Enzin yang dikeluarkan oleh mukosa lambung ini bersifat proteolitis, yaitu menguraikan zat putih telur menjadi peptida
Pankreatin : pankreon comp, *Enzymfort, *Cotazym, *Comcizym.
Pankreatin merupakan ekstrak dari pankreas dan terdiri dari amilase, tripsin, serta lipase. Umumnya digunakan pada keadaan dimana sekresi dari pankreas dan untuk membantu pencernaan di usus,

Obat-obat Jantung dan Pembuluh Darah
Penyakit Jantung Dan Pembuluh
Artheosclerosis.
Gangguan pembuluh yang berperan sangat penting pada terjadinya PJP adalah artheosclerosis yang bercirikan menebal dan mengerasnya dinding arteri besar dan sedang.

Hipertensi.
Gangguan penting yang sering terjadi adalah tekanan darah tinggi yang ada hubungannya pula dengan pengerasan pembuluh. Penyakit jantung yang lebih serius, misalnya angina pectoris, akibat jantung tidak menerima cukup darah (dan oksigen) lagi karena arteri jantung sudah hampir tertutup oleh plaks, Bila arteri jantung atau otak tersumbat sama sekali, malah dapat timbul infark jantung atau infarkotak (stroke, beroerte). Pada gangguan gawat ini sebagian atau seluruh jantung/otak menjadi mati, sehingga sering bersifat fatal. Akibat beban jantung yang diperbesar dapat pula timbul gagal jantung (decompensatio), karena jantung tak sanggup lagi memelihara peredaran darah selayaknya.

Diuretika
Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal.
Pada umumnya diuretika dibagi dalam beberapa kelompok, yakni :
a.    Diuretika-lengkungan : furosemida, bumetanida, dan etakrinat
b.    Derivat-thiazida : hidroklorothiazida, klorthalidon, mefrusida, indapamida,dan kloppamida
c.    Diuretika penghemat-kalium: antagonis-aldosteron (spironolakton, kanrenoat), amilorida dan triamteren
d.    Diuretika osmotis: manitol dan sorbitol
e.    Perintang-karbonanhidrase: asetazolamida

Penggunaan
Diuretika digunakan pada semua keadaan dimana dikehendaki peningkatan pengeluaran air, khususnya pada hipertensi dan gagal jantung
a.    Hipertensi guna mengurangi volume darah seluruhnya hingga tekanan darah (tensi) menurun
b.    Gagal jantung (decompesatio cordis), yang bercirikan peredaran tak sempurna lagi dan terdapat cairan berlebihan di jaringan

Vasodilator
Vasodilator (Lat. Vas = pembuluh, dilatation = memperlebar) atau vasodilatansia didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat melebarkan pembuluh secara langsung. Berdasarkan penggunaannya dapat dibedakan tiga kelompok vasodilator, yaitu:
a.    Obat-obat hipertensi : (di)hidralazin dan minoksidil
b.    Vasodilator coroner (obat angina pectoris)t nitrat dan nitrit
c.    Vasodilator perifer (obat gangguan sirkulasi): buflomedil, pentoxifilin, ekstrak Ginko biloba, siklandelat, isoksuprin dan turunan nikotinat.

Penggolongan Vasodilator :
Vasodilator dapat digolongkan secara kimia dan menurut titik-kerjanya, yaitu:
a.    Alfa-blockers: prazosin, buflomedil dan kodergrokin
b.    Beta-adrenergika: isoxsuprin
c.    Antagonis-Ca: nifedipin dan nimodipin, flunarizin dan sinarizin

d.    Derivate nikotinat: nikotinilalkohol, xantinol- dan metilnikotinat
e.    Obat lainnya: iloprost, pentoksifilin, ekstrak ginko biloba dan sinklandelat (Cyclospasmol)

Antagonis Kalsium
Kalsium merupakan elemen esensial bagi pembentukan tulang dan fungsi otot kerangka dan otot polos jantung/dinding arteriole. Antagonis-Ca menghambat pemasukan ion-Ca ekstrasel ke dalam sel dan dengan demikian dapat mengurangi penyaluran impuls dan kontraksi myocard serta dinding pembuluh.
Penggolongan Antagonis Ca
Antagonis-Ca secara kimiawi dapat digolongkandalam dua kelompok, yakni:
a.    Derivate-dihidropiridin: efek vasodilatasi amat kuat, maka sering digunakan sebagai obat hipertensi. Kini tersedia antara lain: nifedipin dan nisoldipin, amlodipine dan felodipin, nicardipin, nimodipin, nitrendipin dan lercanidipin (Zanidip, Lerdip), lacidipin (Motens) dan isradipin (Lomir)
b.    Obat-obat lain: verapamil, diltiazem, dan bepridil (Cordium). Verampil bekerja terhadap jantung (menurunkan frekuensi dan daya kontraksi, memperlambat penyaluran-AV) dan terhadap system pembuluh (vasodilatasi).
Penggunaan Antagonis-Ca yang terpenting adalah sebagai berikut:
a.    Hipertensi
b.    Angina pectoritis:
c.    Aritmia tertentu
d.    Indikasi lainnya

Hipertensi
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan TD secara reversibel, antara lain:
a.    Garam
b.    Merokok
c.    Pil antihamil mengandung hormon wanita estrogen
d.    Stress (ketegangan emosional)
e.    Drop (liquorice),
f.    Hormon pria dan kortikosteroida juga berkhasiat retensi air.
g.    Kehamilan

Gejala Hipertensi
Hipertensi tidak memberikan gejala khas, baru setelah beberapa tahun adakalanya pasien merasakan nyeri kepala pagi hari sebelim bangun tidur; nyeri ini biasanya hilang setelah bangun. Gangguan hanya dapat dikenali dengan pengukuran tensi dan adakalanya melalui pemeriksaan tambahan terhadap ginjal dan pembuluh

Penggolongan
Obat-obat yang dewasa ini digunakan untuk terapi hipertensi dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yang berturut-turut akan dibicarakan lebih mendetail dibawah ini.
1.    Diuretika
2.    Alfa-receptor blockers
3.    Beta-receptor blockers
4.    Obat-obat SSP
5.    Antagonis Kalsium
6.    Penghambat ACE
7.    Vasodilator
8.    AT-II-receptor blockers (antagonis-ATII)

Obat hipertensi pelbagai macam dan cara kerjanya dapat dibagi dalam beberapa jenis, yakni:
1.    Meningkatkan pengeluaran air dari tubuh: diuretika.
2.    Memperlambat kerja jantung: beta-blockers.
3.    Memperlebar pembuluh: vasolidator langsung (di/hidralazin, minoxidil), antagonis kalsium, penghambat ACE dan AT II-receptor blockers.
4.    Menstimulasi SSP: agonis alfa-2 sentral sperti klonidin dan moxonidin, metildopa, guanfasin dan reserpin.
5.    Mengurangi pengaruh SSO terhadap jantung dan pembuluh,

Beta-Blockers
Khasiat utamanya adalah anti-adrenergik dengan jalan menempati secara bersaing reseptor beta-adregenik penggunaannya :
a.    Angina pectoris
b.    Aritmia jantung yang disertai tachycardia tertentu
c.    Hipertensi
d.    Infark jantung
e.    Gagal jantung (decompensatio).

Obat-obat Sistem Syaraf
Sistem saraf yang mengkoordinir sistem-sistem lainnya di dalam tubuh dibagi dalam dua kelompok, yakni :
a.    Susunan Saraf Pusat (SSP), yang terdiri dari otak dan
b.    Sistem Saraf Perifer, yang dapat dibagi lagi dalam 2 bagian, yakni:
-    Saraf-saraf motoris atau saraf eferan yang menghantarkan impuls (isyarat) listrik dari SSP ke jaringan perifer melalui Neuron eferen (motoris)
-    Saraf-saraf sensoris atau aferen yang menghantarkan impuls dari periferi ke SSP melalui neuron aferen (sensory)

Saraf eferen dapat dibagi pula dalam 2 subsistem utama
1.    Sistem saraf otonom, yang mengendalikan organ-organ dalam secara tidak sadar. Menurut fungsinya SSO ini dibagi dalam dua cabang, yakni Sistem (Orto) Simpatis dan sistem Parasimpatis (SO dan SP)
2.    Sistem saraf motoris, yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh secara sadar

Hipnotika dan sedativa
Hipnotika atau obat tidur (Yun :hypnos = tidur) adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan untuk meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Lazimnya obat ini diberikan pada malam hari. Bilamana zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan , maka dinamakan sedativa (obat-obat pereda).

Penggolongan hipnotika-sedativa
Hipnotika dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni senyawa barbiturat dan benzoadiazepin, obat-obat lainnya dan obat obsolet
a.    Barbiturat: fenobarbital, butobarbital, siklobarb dll.
b.    Benzodiazepin: temazepam, nitrazepam, flurazepam, flunitrazepam, triazolam, estazolam dan midazolam
c.    Lain-lain: morfin (candu) juga berkhasiat hipnotis kuat, tetapi terlalu berbahaya untuk digunakan sebagai obat tidur, begitu pula alkohol
d.    Obat-obat obsolet: senyawa brom K/Na/NH4Br serta turunan-turunan urea karbromal dan bromisoval

Obat-obat Antihistaminika
Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor-histamin (penghambatan saingan). Antihistaminika juga dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yakni antagonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1 –blockers atau antihistaminika) dan H2.
Penggunaan
a.    Asma yang bersifat alergi, guna menanggulangi gejala bronchokonstriksi
b.    Sengatan serangga, khususnya tawon dan lebah, yang mengandung a.l. histamin dan suatu enzim yang mengakibatkan pembebasannya dari mastcells
c.    Urticaria (kaligata, biduran)
d.    Stimulasi nafsu makan
e.    Sebagai sedativum
f.    Penyakit Parkinson
g.    Mabuk jalan (mual) dan pusing (vertiga)
h.    Shock anafilaksis

Obat-obat sistem pernafasan
Istilah CARA atau Chromic Aspecific Respiratory Affections mencakup semua penyakit saluran pernafasan yang bercirikan penyumbatan bronchi disertai pengembangan mukosa dan sekresi dahak berlebihan. Penyakit-penyakit tersebut meliputi berbagai bentuk penyakit besreta peralihannya, yakni asma, bronchitis kronis dan emsfisema paru yang gejala klinisnya saling menutupi. Gejala terpentingnya antara lain sesak napas saat mengeluarkan tenaga atau selama istirahat dan/atau sebagai serangan akut, juga batuk kronis dengan pengeluaran dahak kental. Karena gangguan tersebut memiliki mekanisme pathofisiologi yang berbeda-beda dengan penanganan yang juga tidak sama, maka pada umumnya telah dilakukan pemisahan antara asma dan bronchitis kronis + emfisema, yang kini dinamakan COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Diseases).





Asma (asthma bronciale)
Asma atau bengek adalah suatu penyakit alergi yang bercirikan peradangan steril kronis yang disertai serangan sesak napas akut secara berkala, mudah sengal-sengal dan batuk. Ciri lain adalah hipersekresi dahak yang biasanya lebih parah pada malam hari dan meningkatnya ambang rangsang bronchi terhadap ransangan alergis maupun nonalergis
Bronchitis Kronis & Emfisema
Bronchitis bercirikan batuk ‘produktif’ menahun dengan pengeluaran banyak dahak, tanpa sesak napas atau hanya ringan
Emfisema paru (L.pengembangan) bercirikan dilatasi dan dekstruksi dari jaringan paru-paru, yang mengakibatkan sesak napas terus-menerus dan menghebat pada waktu mengeluarkan tenaga (exertion); penderita sering kali merasa letih dan tak bergairah
Obat asma dan COPD
1.    Anti-alergika adalah zat-zat yang berkhasiat menstabilisasi mastscells, sehingga tidak pecah dan mengakibatkan terlepasnya histamin dan mediator peradang lainnya
2.    Bronchodilator. Pelepasan kejang dan broncodilatasi dapat dicapai dengan cara merangsang sistem adrenergis dengan adrenergika atau melalui penghambatan sistem kolinergis dengan antikolinergika, juga dengan teoilin
3.    Kortikosteroida: hidrokortison, prednison, deksametason.

Bioregulator
Bioregulator adalah bahan yang mengatur suatu sistem kehidupan, dapat juga disebut biokatalisator. Bioregulator yang terpenting adalah: enzim,  vitamin, mineral, hormon

Obat-obat HIV dan AIDS
AIDS(Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindroma cacat kekebalan Obat-Obat Antiretroviral
Obat-obat kini yang tersedia untuk terapi AIDS terdiri atas dua kelompok, yakni reverse-transcriptase (RT) inhibitors dan protease inhibitors
1.    Reverse-transcriptase inhibitors (RTI)
Analoga nukleosida (NRTI) : abacavir, didanosin (DDI), lamivudin (3TC), stavudin (D4T), zalcitabine (DDC) dan Zidovudin (AZT)
2.    Protease inhibitors (PI) : amprenavir (Agrenase), indinavir, nelfinavir (viracept), ritonavir dan sequinavir

Vaksin Dan Imunoglobulin
Vaksin
Tujuan pemberian vaksin adalah merangsang imunitas seluler maupun humoral seperti yang layalnya timbul sebagai reaksi terhadap suatu infeksi alamiah
Penggolongan.
a.    Vaksin bakterial : yang terdiri dari bakteri hidup yang dilemahkan atau diinaktifkan, polisakarida dari kapsel bakteri, atau fragmennya yang memiliki sifat antigen.
b.    Vaksin viral, yang terdiri dari virus hidup yang dilemahkan atau diinaktifkan, juga fragme virus yang memiliki sifat antigen
c.    Vaksin parasiter, yang terdiri dari suatu protein yang terdapat di permukaan sporozit plamodium falciparum (vaksin malaria, eksperimental).

Sediaan –sediaan tersendiri
Vaksin Mikroba
1.    Vaksin BCG kering (bacillus Calmette Guerin)
2.    Vaksin Campak Kering
3.    Vaksin Polio Oral Trivalen
4.    Vaksin Jerap Difteri-Tetanus-Pertussis (DTP)
Vakin kanker cervix (gardasil) adalah vaksin kanker pertama terhadap suatu jenis kanker

*Diambil dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Sarwan © 2017