Banner 468 x 60px


 

Jumat, 17 November 2017

BENTUK SEDIAAN OBAT

0 komentar

Serbuk obat yang mengandung bagian yang mudah menguap, dikeringkan dengan pertolongan kapur tohor atau bahan pengering lain yang cocok, setelah itu diserbuk dengan jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai derajat halus sesuai yang tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk.

Derajat halus serbuk dinyatakan dengan 1 nomor, berarti semua atau dua nomor. Jika derajat halus serbuk dinyatakan 1 nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan 2 nomor dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi.

Serbuk bagi adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan pengemas yang lain yang cocok. Supaya dapat terbagi tepat, maka campuran serbuk sering ditambah zat tambahan berkhasiat netral atau indiferen, seperti Saccharum Lactis, Saccharum album, sampai berat serbuk tiap bungkusnya 500 mg.
Cara Pembuatan
Serbuk diracik dengan cara mencampur satu persatu, sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan yang jumlahnya sedikit kemudian diayak, biasanya menggunakan pengayak nomor 60 dan dicampur lagi. Cara mencampur obat-obatan dan bahan-bahan tambahan harus cermat, yang perlu diperhatikan :
1.    Jangan mencampur obat berkhasiat keras dalam mortar dalam keadaan tidak diencerkan, untuk mencegah sebagian obat tertinggal dalam pori-pori dinding mortar. Cara yang baik ialah, pilihlah mortar yang halus, masukkan dulu kira-kira sama bagian serbuk yang lain, digerus sendirian baru dimasukkan dan digerus bersama obat yang berkhasiat keras. Setelah itu masukkan bagian serbuk yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk dan digerus. Untuk mencampur tersebut sebaiknya digunakan bagian serbuk yang lain yang mempunyai warna berlaianan dan kontras dengan warna obat berkhasiat keras tersebut. Bila semua serbuk berwarna putih berilah zat warna, biasanya Carmin.
2.    Bila bagian-bagian serbuk mempunyai BJ yang berlainan, masukkan dulu serbuk yang BJ-nya besar baru kemudian masukkan bagian serbuk yang BJ-nya lebih rendah dan diaduk.
3.    Jangan menggerus bahan-bahan serbuk dalam jumlah banyak sekaligus
4.    Dalam membuat serbuk lebih baik bila bahan-bahan baku serbuk kering. Maka itu untuk menggerus halus serbuk kristal lebih baik menggunakan mortar panas.
5.    Cara mencampur Camphora dalam serbuk dilakukan sebagai berikut :
Larutkan Camphora dengan Spritus fortiori dalam mortir sampai cukup larut, jangan berlebihan, setelah itu diaduk dengan bahan lain misalkan Saccharum Lactis sampai Spiritus fortiornya menguap. Pada waktu mengaduk jangan ditekan untuk menghindari camphora menggumpal kembali.
6.    Serbuk dengan ekstrak kental
Dalam mortir panas ekstrak kental diencerkan dengan cairan penyari, misalnya Spiritus dilutes atau Spiritus lainnya secukupnya dan diserbukkan dengan pertolongan zat tambahan yang cocok, misalkan Saccharum Lactis atau Amylum Oryzae
7.    Serbuk dengan Tinctura atau Extractum liquidum
Tincture dan Extractum liquidum diupkan pelarutnya di atas tangas air hingga hampir kering lalu diserbukkan dengan pertolongan bahan tambahan yang cocok, biasanya digunakan Saccharum Lactis bila untuk obat dalam. Supaya serbuk yang dipakai pengeringan tidak menjadi keras, maka masa selalu dilepas dengan spatel dari dindinng mortir.
8.    Gula berminyak = Elaeosacchara adalah campuran 2 gram Saccharum Lactis dengan 1 tetes minyak eteris, yang sering digunakan adalah Oleum Anisi, Oleum Foeniculli, dan Oleum Menthae Piperitae.
9.    Campuran serbuk yang menjadi basah atau mencair
Arti basah di sini ialah menyerap air atau keluar air kristalnya, menyerap air di sini disebabkan oleh karena campuran serbuk itu lebih higroskopis dari masing-masing serbuk/kristal. Selain tersebut campuran serbuk dapat menyebabkan turunnya titik lebur campuran serbuk tersebut dibanding titik lebur masing-masing serbuk.

Kapsul adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai.

Macam – Macam Kapsul
Kapsul cangkang keras (Capsulae durae, hard capsul) terdiri atas bagian wadah dan tutup (capsulae overculateae) yang terbuat dari metilselulosa, gelatin, pati, atau bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil 5 sampai nomor paling besar 000, kecuali cangkang untuk hewan. Umumnya ukuran terbesar 000 merupakan ukuran yang dapat diberikan kepada pasien. Ada juga ukuran 0 yang bentuknya memanjang (dikenal sebagai ukuran OE) yang memberikan kapasitas lebih besar tanpa peningkatan daiameter dan biasanya mengandung air 10-15%. Biasanya cangkang kapsul ini diisi dengan bahan padat atau serbuk, butiran atau granul.

Kapsul cangkang lunak (capsulae molles, soft capsul) merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat telur (globula) yang dibuat dari gelatin (kadang disebut gel lunak) atau bahan lain yang sesuai.

Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Kapsul
Keuntungan pemberian bentuk sediaan kapsul :
1.    Bentuknya menarik dan praktis.
2.    Cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi obat yang berasa dan berbau tidak enak.
3.    Mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam perut sehingga obat cepat diabsorbsi
4.    Dokter dapat mengombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-beda sesuai kebutuhan pasien.
5.    Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan zat tambahan atau penolong seperti pada pembuatab pil maupun tablet.

Kerugian pemberian bentuk sediaan kapsul :
1.    Tidak bisa untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori kapsul tidak dapat menahan penguapan.
2.    Tidak bisa untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembap)
3.    Tidak bisa untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul
4.    Tidak bisa untuk balita
5.    Tidak bisa dibagi-bagi

Cara Penyimpanan Kapsul
Cangkang kapsul kelihatannya keras, tetapi sebenarnya masih mengandung air dengan kadar 10-15% (FI ed IV) dan 12 -16% menurut literatur lain. Jika disimpan di tempat yang lembap, kapsul akan menjadi lunak dan melengket satu sama lain serta sukar dibuka karena kapsul itu dapat menyerap air dari udara yang lembap. Sebaliknya jika disimpan ditempat yang terlalu kering, kapsul itu akan kehilangan airnya sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah, Oleh karena itu, penyimpanan kapsul sebaiknya dalam tempat atau ruangan yang ;
1.    Tidak terlalu lembap atau dingin dan kering
2.    Terbuat dari botol gelas, tertutup rapat, dan diberi bahan pengering (silika gel)
3.    Terbuat dari wadah botol-plastik, tertutup rapat yang juga diberi bahan pengering
4.    Terbuat dari aluminium-foil dalam blister atau strip

Salep (unguenta menurut FI ed III) adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogeny kedalam dasar salep yang cocok.

Peraturan Pembuatan Saleb Menurut F.Van Duin
1.    Peraturan salep pertama
“Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan”.
2.    Peraturan salep kedua
“Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basis salepnya”.
3.    Peraturan salep ketiga
“Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air harus diserbukkan lebih dahulu, kemuian diayak dengan pengayak No 60”.
4.    Peraturan salep keempat
“Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digeru sampai dingin” bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya).

Persyaratan Salep (FI III)
1.    Pemerian : tidak boleh berbau tengik
2.    Kadar : kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%.
3.    Dasar salep (ds) : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep, dapat dipilih beberapa bahan dasar salep sebagai berikut:
a.       Ds. Senyawa hdrokarbon : vaselin putih, vaselin kuning (vaselin flavum), malam putih (cera album), malam kuning (cera flavum), atau campurannya.
b.      Ds. Serap : lemak bulu domba (adeps lanae), campuran 3 bagian kolesterol, 3 bagian steril-alkohol, 8 bagian malam putih dan 86 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian malam kuning dan 70 bagian minyak wijen.
c.       Ds. Yang dapat disuse dengan air atau Ds. Emulsi, misalnya emulsi minyak dalam air (M/A)
d.      Ds. yang dapat larut dalam air, misalnyaPEG atau campurannya.
4.    Homogenitas : jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogeny.
5.    Penandaan : pada etiket harus tertera “obat luar”.




Penggolongan Salep
1.    Menurut konsistensinya salep dapat dibagi : Unguenta, Cream (krim), Pasta, Cerata, Gelones/spumae/jelly
2.    Menurut sifat famakologi/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi : Salep epidermis, Salep endodermis, Salep diadermis,
3.    Menurut dasar salepnya : Salep hidrofobik, Salep hdrofilik
4. Menurut Formularium Nasional (Fornas) : Dasar salep 1 (ds. senyawa hidrokarbon), Dasar salep 2 (ds. serap), Dasar salep 3 (ds. yang dapat dicuci dengan air atau ds. emulsi M/A), Dasar salep 4 (ds. yang dapat larut dalam air)

Kualitas Dasar salep yang baik adalah :
1.    Stabil, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembapan dan selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas.
2.    Lunak, harus halus, dan homogen.
3.    Mudah dipakai.
4.    Dasar salep yang cocok.
5.    Dapat terdistribusi secara merata.

Menurut FI IV, solutiones atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlalut. Larutan terjadi jika sebuah bahan padat tercampur atau terlarut secara kimia maupun fisika ke dalam bahan cair. Larutan dapat digolongkan menjadi larutan langsung dan larutan tidak langsung. Larutan langsung adalah larutan yang terjadi karena semata mata peristiwa fisika , bukan peristiwa kimia.

Menurut FI IV, bentuk sediaan larutan dapat digolongkan menurut cara pemberiannya, yaitu larutan oral dan larutan topikal, atau digolongkan berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut seperti spirit, tingtur, dan air aromatik.
Penggolongan menurut cara pemberiannya:
1.    Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air
a.       Sirop adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi.
b.      Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol.
2.    Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut.
a.       Losio (larutan atau suspensi) yang digunakan secara topikal.
b.      Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi.



Penggolongan berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut:
1.    Spirit adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat mudah menguap, umumnya digunakan sebagai bahan pengaroma.
2.    Tingtur adalah larutan mengandung etanol atau hidroalkohol yang dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia
3.    Air aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatik, atau bahan mudah menguap lainnya.

Keuntungan dan kerugian bentuk larutan:
Keuntungan:
1.    Merupakan campuran homogen
2.    Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan
3.    Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tabel sulit diencerkan
4.    Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorpsi.
5.    Mudah diberi pemanis, baua-bauan, dan warna, dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak
6.    Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.
Kerugian:
1.    Volume bentuk larutan lebih besar
2.    Ada oabat yang tidak stabil dalam larutan
3.    Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan.

Suspensi adalah sedian cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral.

Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.

Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
Beberapa faktor yang memengaruhi stabilitas suspensi ialah : Ukuran Partikel, Kekentalan (Viskositas), Jumlah Partikel (Konsentrasi), Sifat atau Muatan Partikel, Bahan Pensuspensi dari Alam (Akasia, Chondrus, Tragakan, Algin), Bahan pensuspensi Alam Bukan Gom (bentinit, hectorile, dan veegum, Formula Suspensi, Bahan Pengawet.

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.


Tipe emulsi ditentukan oleh sifat emulgator, yaitu bila emulgator yang digunakan larut dalam air atau suka air (hidrofil) maka akan diperoleh emulsi tipe M/A tetapi apabila emulgator larut dalam minyak atau suka minyak (lipofil) maka akan terbentuk tipe emulsi A/M. Emulgator yang membentuk emulsi tipe M/A antara lain adalah : PGA, tragacantha, pulvis gummosus, agar-agar, vitellum ovi, gelatina, sabun monovalen, tween, natrium laurylsulfat dan sebagainya. Emulgator yang membentuk emulsi tipe A/M anatara lain adalah kolesterol, span, sabun polivalen.

Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektum, vagina, atau uretra; umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat dan sebagai pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Macam-macam supositoria berdasarkan tempat penggunaannya yaitu :
Supositoria rektal dan Supositoria Vaginal (ovula), supositoria uretra (bacilla,bougis)digunakan lewat uretra.

Ovula adalah sediaan padat, umumnya berbentuk telur, mudah melembek dan meleleh pada suhu tubuh, dapat melarut, dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.

Tablet (compressi) adalah sediaaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar.
Penggolongan Tablet
1.    Berdasarkan metode pembuatan
a.    Tablet cetak
b.    Tablet kempa
2.    Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh
a.       Bekerja lokal
b.      Bekerja sistematik
3.    Berdasarkan jenis bahan penyalut
a.       Tablet salut biasa/ salut gula (dragee)
b.      Tablet salut selaput (film coated tablet/fct)
c.       Tablet salut kempa
d.      Tablet salut enterik (enteric coated tablet)
e.       Tablet lepas-lambat (sustained release):

Komponen Tablet
1.    Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya edikit atau sulit dikempa
2.    Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi.
3.    Bahan penghancur (desintegran) membantu tablet agar hancur ditelan.
4.    Bahan lubrikan mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet melekat pada cetakan.
5.    Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk, umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi
Cara Pembuatan Tablet
Pembuatan tablet dibagi menjadi tiga cara, yaitu granulasi basah, granulasi kering (menggunakan mesin rol atau mesin slug), dan kempa langsung. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan / kemampuan kempa.

Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak dan bola mata. Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu:
1.    Steril
2.    Sedapat mungkin isohidris
3.    Sedapat mungkin isotonis

Salep mata adalah saleb yang steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar salep yang cocok.
Collyrium adalah larutan steril dan jernih yang digunakan untuk mencuci mata. Misalnya Optraex yang berisi larutan steril acidum boricum (asam borat) yang hipertonis.

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit kedalam selaput lender.
Infundabilia atau Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhdap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak.

*Diambil dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Sarwan © 2017