Serbuk
obat yang mengandung bagian yang mudah menguap, dikeringkan dengan pertolongan
kapur tohor atau bahan pengering lain yang cocok, setelah itu diserbuk dengan
jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai
derajat halus sesuai yang tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk.
Derajat
halus serbuk dinyatakan dengan 1 nomor, berarti semua atau dua nomor. Jika
derajat halus serbuk dinyatakan 1 nomor, berarti semua serbuk dapat melalui
pengayak dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan 2 nomor dimaksudkan
bahwa semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih
dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi.
Serbuk
bagi adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus
dengan kertas perkamen atau bahan pengemas yang lain yang cocok. Supaya dapat
terbagi tepat, maka campuran serbuk sering ditambah zat tambahan berkhasiat
netral atau indiferen, seperti Saccharum Lactis, Saccharum album, sampai berat
serbuk tiap bungkusnya 500 mg.
Cara
Pembuatan
Serbuk
diracik dengan cara mencampur satu persatu, sedikit demi sedikit dan dimulai
dari bahan yang jumlahnya sedikit kemudian diayak, biasanya menggunakan
pengayak nomor 60 dan dicampur lagi. Cara mencampur obat-obatan dan bahan-bahan
tambahan harus cermat, yang perlu diperhatikan :
1. Jangan mencampur obat berkhasiat
keras dalam mortar dalam keadaan tidak diencerkan, untuk mencegah sebagian obat
tertinggal dalam pori-pori dinding mortar. Cara yang baik ialah, pilihlah
mortar yang halus, masukkan dulu kira-kira sama bagian serbuk yang lain,
digerus sendirian baru dimasukkan dan digerus bersama obat yang berkhasiat
keras. Setelah itu masukkan bagian serbuk yang lain sedikit demi sedikit sambil
diaduk dan digerus. Untuk mencampur tersebut sebaiknya digunakan bagian serbuk
yang lain yang mempunyai warna berlaianan dan kontras dengan warna obat
berkhasiat keras tersebut. Bila semua serbuk berwarna putih berilah zat warna,
biasanya Carmin.
2. Bila bagian-bagian serbuk
mempunyai BJ yang berlainan, masukkan dulu serbuk yang BJ-nya besar baru
kemudian masukkan bagian serbuk yang BJ-nya lebih rendah dan diaduk.
3. Jangan menggerus bahan-bahan
serbuk dalam jumlah banyak sekaligus
4. Dalam membuat serbuk lebih baik
bila bahan-bahan baku serbuk kering. Maka itu untuk menggerus halus serbuk
kristal lebih baik menggunakan mortar panas.
5. Cara mencampur Camphora dalam
serbuk dilakukan sebagai berikut :
Larutkan Camphora dengan Spritus
fortiori dalam mortir sampai cukup larut, jangan berlebihan, setelah itu diaduk
dengan bahan lain misalkan Saccharum Lactis sampai Spiritus fortiornya menguap.
Pada waktu mengaduk jangan ditekan untuk menghindari camphora menggumpal
kembali.
6. Serbuk dengan ekstrak kental
Dalam
mortir panas ekstrak kental diencerkan dengan cairan penyari, misalnya Spiritus
dilutes atau Spiritus lainnya secukupnya dan diserbukkan dengan pertolongan zat
tambahan yang cocok, misalkan Saccharum Lactis atau Amylum Oryzae
7. Serbuk dengan Tinctura atau
Extractum liquidum
Tincture dan Extractum liquidum
diupkan pelarutnya di atas tangas air hingga hampir kering lalu diserbukkan
dengan pertolongan bahan tambahan yang cocok, biasanya digunakan Saccharum
Lactis bila untuk obat dalam. Supaya serbuk yang dipakai pengeringan tidak
menjadi keras, maka masa selalu dilepas dengan spatel dari dindinng mortir.
8. Gula berminyak = Elaeosacchara
adalah campuran 2 gram Saccharum Lactis dengan 1 tetes minyak eteris, yang
sering digunakan adalah Oleum Anisi, Oleum Foeniculli, dan Oleum Menthae
Piperitae.
9. Campuran serbuk yang menjadi
basah atau mencair
Arti basah di sini ialah menyerap
air atau keluar air kristalnya, menyerap air di sini disebabkan oleh karena
campuran serbuk itu lebih higroskopis dari masing-masing serbuk/kristal. Selain
tersebut campuran serbuk dapat menyebabkan turunnya titik lebur campuran serbuk
tersebut dibanding titik lebur masing-masing serbuk.
Kapsul
adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cangkang keras atau
lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat
juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai.
Macam
– Macam Kapsul
Kapsul
cangkang keras (Capsulae durae, hard capsul) terdiri atas bagian wadah dan
tutup (capsulae overculateae) yang terbuat dari metilselulosa, gelatin, pati,
atau bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor
paling kecil 5 sampai nomor paling besar 000, kecuali cangkang untuk hewan.
Umumnya ukuran terbesar 000 merupakan ukuran yang dapat diberikan kepada
pasien. Ada juga ukuran 0 yang bentuknya memanjang (dikenal sebagai ukuran OE)
yang memberikan kapasitas lebih besar tanpa peningkatan daiameter dan biasanya
mengandung air 10-15%. Biasanya cangkang kapsul ini diisi dengan bahan padat
atau serbuk, butiran atau granul.
Kapsul
cangkang lunak (capsulae molles, soft capsul) merupakan satu kesatuan
berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat telur (globula)
yang dibuat dari gelatin (kadang disebut gel lunak) atau bahan lain yang
sesuai.
Keuntungan
dan Kerugian Bentuk Sediaan Kapsul
Keuntungan
pemberian bentuk sediaan kapsul :
1. Bentuknya menarik dan praktis.
2. Cangkang kapsul tidak berasa
sehingga dapat menutupi obat yang berasa dan berbau tidak enak.
3. Mudah ditelan dan cepat hancur
atau larut dalam perut sehingga obat cepat diabsorbsi
4. Dokter dapat mengombinasikan
beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-beda sesuai kebutuhan pasien.
5. Kapsul dapat diisi dengan cepat
karena tidak memerlukan bahan zat tambahan atau penolong seperti pada pembuatab
pil maupun tablet.
Kerugian
pemberian bentuk sediaan kapsul :
1. Tidak bisa untuk zat-zat yang
mudah menguap karena pori-pori kapsul tidak dapat menahan penguapan.
2. Tidak bisa untuk zat-zat yang
higroskopis (menyerap lembap)
3. Tidak bisa untuk zat-zat yang
dapat bereaksi dengan cangkang kapsul
4. Tidak bisa untuk balita
5. Tidak bisa dibagi-bagi
Cara
Penyimpanan Kapsul
Cangkang
kapsul kelihatannya keras, tetapi sebenarnya masih mengandung air dengan kadar
10-15% (FI ed IV) dan 12 -16% menurut literatur lain. Jika disimpan di tempat
yang lembap, kapsul akan menjadi lunak dan melengket satu sama lain serta sukar
dibuka karena kapsul itu dapat menyerap air dari udara yang lembap. Sebaliknya
jika disimpan ditempat yang terlalu kering, kapsul itu akan kehilangan airnya
sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah, Oleh karena itu, penyimpanan kapsul
sebaiknya dalam tempat atau ruangan yang ;
1. Tidak terlalu lembap atau dingin
dan kering
2. Terbuat dari botol gelas,
tertutup rapat, dan diberi bahan pengering (silika gel)
3. Terbuat dari wadah botol-plastik,
tertutup rapat yang juga diberi bahan pengering
4. Terbuat dari aluminium-foil dalam
blister atau strip
Salep
(unguenta menurut FI ed III) adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan
dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi
homogeny kedalam dasar salep yang cocok.
Peraturan
Pembuatan Saleb Menurut F.Van Duin
1. Peraturan salep pertama
“Zat-zat yang dapat larut dalam
campuran lemak, dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan”.
2. Peraturan salep kedua
“Bahan-bahan yang larut dalam
air, jika tidak ada peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan
jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan
jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basis salepnya”.
3. Peraturan salep ketiga
“Bahan-bahan yang sukar atau
hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air harus diserbukkan lebih dahulu,
kemuian diayak dengan pengayak No 60”.
4.
Peraturan
salep keempat
“Salep-salep yang dibuat dengan
jalan mencairkan, campurannya harus digeru sampai dingin” bahan-bahan yang ikut
dilebur, penimbangannya harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan
bobotnya).
Persyaratan
Salep (FI III)
1. Pemerian : tidak boleh berbau
tengik
2. Kadar : kecuali dinyatakan lain
dan untuk salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik, kadar bahan obat
adalah 10%.
3. Dasar salep (ds) : kecuali
dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis salep) digunakan vaselin
putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian
salep, dapat dipilih beberapa bahan dasar salep sebagai berikut:
a. Ds. Senyawa hdrokarbon : vaselin
putih, vaselin kuning (vaselin flavum), malam putih (cera album), malam kuning
(cera flavum), atau campurannya.
b. Ds. Serap : lemak bulu domba
(adeps lanae), campuran 3 bagian kolesterol, 3 bagian steril-alkohol, 8 bagian
malam putih dan 86 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian malam kuning dan 70
bagian minyak wijen.
c. Ds. Yang dapat disuse dengan air
atau Ds. Emulsi, misalnya emulsi minyak dalam air (M/A)
d. Ds. yang dapat larut dalam air,
misalnyaPEG atau campurannya.
4. Homogenitas : jika dioleskan pada
sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan
yang homogeny.
5. Penandaan : pada etiket harus
tertera “obat luar”.
Penggolongan
Salep
1. Menurut konsistensinya salep
dapat dibagi : Unguenta, Cream (krim), Pasta, Cerata, Gelones/spumae/jelly
2. Menurut sifat
famakologi/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi : Salep epidermis, Salep
endodermis, Salep diadermis,
3. Menurut dasar salepnya : Salep
hidrofobik, Salep hdrofilik
4.
Menurut Formularium Nasional (Fornas) : Dasar salep 1 (ds. senyawa hidrokarbon),
Dasar salep 2 (ds. serap), Dasar salep 3 (ds. yang dapat dicuci dengan air atau
ds. emulsi M/A), Dasar salep 4 (ds. yang dapat larut dalam air)
Kualitas
Dasar salep yang baik adalah :
1. Stabil, tidak terpengaruh oleh
suhu dan kelembapan dan selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas.
2. Lunak, harus halus, dan homogen.
3. Mudah dipakai.
4. Dasar salep yang cocok.
5. Dapat terdistribusi secara
merata.
Menurut
FI IV, solutiones atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau
lebih zat kimia yang terlalut. Larutan terjadi jika sebuah bahan padat
tercampur atau terlarut secara kimia maupun fisika ke dalam bahan cair. Larutan
dapat digolongkan menjadi larutan langsung dan larutan tidak langsung. Larutan
langsung adalah larutan yang terjadi karena semata mata peristiwa fisika ,
bukan peristiwa kimia.
Menurut
FI IV, bentuk sediaan larutan dapat digolongkan menurut cara pemberiannya,
yaitu larutan oral dan larutan topikal, atau digolongkan berdasarkan sistem
pelarut dan zat terlarut seperti spirit, tingtur, dan air aromatik.
Penggolongan
menurut cara pemberiannya:
1. Larutan oral adalah sediaan cair
yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau
tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
konsolven-air
a. Sirop adalah larutan oral yang
mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi.
b. Eliksir adalah larutan oral yang
mengandung etanol sebagai kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar etanol
yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin
dan propilen glikol.
2. Larutan topikal adalah larutan
yang biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain
seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan
lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut.
a. Losio (larutan atau suspensi)
yang digunakan secara topikal.
b. Larutan otik adalah larutan yang
mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi.
Penggolongan
berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut:
1. Spirit adalah larutan yang
mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat mudah menguap, umumnya digunakan
sebagai bahan pengaroma.
2. Tingtur adalah larutan mengandung
etanol atau hidroalkohol yang dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia
3. Air aromatik adalah larutan
jernih dan jenuh dalam air, dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatik,
atau bahan mudah menguap lainnya.
Keuntungan dan kerugian bentuk larutan:
Keuntungan:
1. Merupakan campuran homogen
2. Dosis dapat diubah-ubah dalam
pembuatan
3. Dapat diberikan dalam larutan
encer, sedangkan kapsul dan tabel sulit diencerkan
4. Kerja awal obat lebih cepat
karena obat cepat diabsorpsi.
5. Mudah diberi pemanis, baua-bauan,
dan warna, dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak
6. Untuk pemakaian luar, bentuk
larutan mudah digunakan.
Kerugian:
1. Volume bentuk larutan lebih besar
2. Ada oabat yang tidak stabil dalam
larutan
3. Ada obat yang sukar ditutupi rasa
dan baunya dalam larutan.
Suspensi
adalah sedian cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang
terdispersi ke dalam fase cair. Suspensi oral adalah sediaan cair yang
mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair
dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral.
Suspensi
topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus
yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.
Suspensi
tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang
ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
Beberapa
faktor yang memengaruhi stabilitas suspensi ialah : Ukuran Partikel, Kekentalan (Viskositas), Jumlah Partikel (Konsentrasi), Sifat
atau Muatan Partikel, Bahan Pensuspensi dari Alam (Akasia, Chondrus, Tragakan,
Algin), Bahan pensuspensi Alam Bukan Gom (bentinit, hectorile, dan veegum,
Formula Suspensi, Bahan Pengawet.
Emulsi
adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang
cocok. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur,
biasanya air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang lain.
Tipe
emulsi ditentukan oleh sifat emulgator, yaitu bila emulgator yang digunakan
larut dalam air atau suka air (hidrofil) maka akan diperoleh emulsi tipe M/A
tetapi apabila emulgator larut dalam minyak atau suka minyak (lipofil) maka
akan terbentuk tipe emulsi A/M. Emulgator yang membentuk emulsi tipe M/A antara
lain adalah : PGA, tragacantha, pulvis gummosus, agar-agar, vitellum ovi,
gelatina, sabun monovalen, tween, natrium laurylsulfat dan sebagainya.
Emulgator yang membentuk emulsi tipe A/M anatara lain adalah kolesterol, span,
sabun polivalen.
Supositoria
menurut FI edisi
IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui
rektum, vagina, atau uretra; umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu
tubuh. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat dan
sebagai pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Macam-macam
supositoria berdasarkan tempat penggunaannya yaitu :
Supositoria
rektal dan Supositoria Vaginal (ovula), supositoria uretra (bacilla,bougis)digunakan
lewat uretra.
Ovula
adalah sediaan padat, umumnya berbentuk telur, mudah melembek dan meleleh pada
suhu tubuh, dapat melarut, dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina.
Bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.
Tablet
(compressi) adalah sediaaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau
tanpa bahan pengisi. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat
hewan besar.
Penggolongan
Tablet
1. Berdasarkan metode pembuatan
a. Tablet cetak
b. Tablet kempa
2. Berdasarkan distribusi obat dalam
tubuh
a. Bekerja lokal
b. Bekerja sistematik
3. Berdasarkan jenis bahan penyalut
a. Tablet salut biasa/ salut gula (dragee)
b. Tablet salut selaput (film
coated tablet/fct)
c. Tablet salut kempa
d. Tablet salut enterik (enteric
coated tablet)
e. Tablet lepas-lambat (sustained
release):
Komponen
Tablet
1. Bahan pengisi ditambahkan jika
zat aktifnya edikit atau sulit dikempa
2. Bahan pengikat memberikan daya
adhesi pada serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan
pengisi.
3. Bahan penghancur (desintegran)
membantu tablet agar hancur ditelan.
4. Bahan lubrikan mengurangi gesekan
selama proses pengempaan tablet melekat pada cetakan.
5. Glidan adalah bahan yang dapat
meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk, umumnya digunakan dalam kempa
langsung tanpa proses granulasi
Cara
Pembuatan Tablet
Pembuatan
tablet dibagi menjadi tiga cara, yaitu granulasi basah, granulasi kering
(menggunakan mesin rol atau mesin slug), dan kempa langsung. Tujuan granulasi
basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan / kemampuan
kempa.
Tetes
mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan
cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak dan bola mata.
Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu:
1. Steril
2. Sedapat mungkin isohidris
3. Sedapat mungkin isotonis
Salep
mata adalah saleb yang steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar
salep yang cocok.
Collyrium
adalah larutan steril dan jernih yang digunakan untuk mencuci mata. Misalnya Optraex
yang berisi larutan steril acidum boricum (asam borat) yang
hipertonis.
Injeksi
adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit
kedalam selaput lender.
Infundabilia atau Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan
atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhdap darah,
disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak.*Diambil dari berbagai sumber
0 komentar:
Posting Komentar